SEJARAH

Gagasan berawal dari suatu prespektif saat diskusi bersama antara Benisius Pao, SS., M.Pd, Yoseph Fernandes Amekae, SE, Yohanes Freadyanus Kasi, S.Si., M.Pd, , Melchior Tibo, S.Sos, Kristoforus Meo, SS, Valentinus Ngara, dan Engelbertus Ngalu Bali, M.Pd yang bersepakat bahwa penting hadirnya sebuah lembaga pendidikan di Kabupaten Nagekeo-Nusa Tenggara Timur (NTT) yang diarahkan pada Teknologi Rekayasa Pangan. Berpegang pada tema besar yaitu “Pengarusutamaan Pertanian Terpadu dalam Kerangka Teknologi Rekayasa Pangan untuk Kedaulatan Pangan di NTT” ketujuh pendiri tersebut yakin lembaga yang didirikan mampu mengatasi permasalahan rawan pangan di NTT. Berdasarkan kenyataan bahwa Indonesia saat ini masih berada dalam situasi pembangunan yang tidak merata yang mana kegiatan perekonomian terfokus di Jawa, sehingga sebagian besar SDM yang profesional dan terampil hanya tertarik di wilayah tersebut. Perlu adanya pertumbuhan pusat-pusat kegiatan ekonomi yang diarahkan pada daerah-daerah yang memiliki keunggulan strategis-politis, seperti daerah 3T (terdepan, terluar, tertinggal) yang mana sesuai Peraturan Presiden Nomor 131 tahun 2015 tentang Penetapan Daerah Tertinggal Tahun 2015-2019 provinsi NTT masuk di dalamnya.

Para pendiri Institut Nasional Flores (INF) yaitu Benisius Pao, SS., M.Pd, Yoseph Fernandes Amekae, SE, Yohanes Freadyanus Kasi, S.Si., M.Pd, , Melchior Tibo, S.Sos, Kristoforus Meo, SS, Valentinus Ngara, dan Engelbertus Ngalu Bali, M.Pd meyakini bahwa pengembangan sumberdaya manusia adalah kunci dari pembangunan suatu daerah. Sebagai sektor yang memegang peranan sangat penting dalam pembangunan, pendidikan merupakan strategi yang dinilai paling ampuh dalam menunjang keberhasilan percepatan pembangunan. Pendidikan mampu membawa suatu masyarakat untuk lebih menguasai pengetahuan & teknologi, membuka lebih banyak wawasan, meningkatkan kualitas hidup & peradaban, dan mendorong masyarakat untuk lebih maju & arif-bijaksana dalam mengelola kekayaan alam. Sehingga aspek utama yang dibutuhkan dalam memajukan suatu daerah adalah penguatan dan pembangunan manusianya. Upaya membangun manusia berkualitas dilakukan melalui penguatan aspek: (1) perbaikan gizi-kesehatan, (2) pemberdayaan ekonomi dan (3) pendidikan. Pemerataan pendidikan yang dilaksanakan di seluruh Indonesia merupakan salah satu langkah yang dilakukan guna menyeimbangkan proporsi ketersediaan SDM berkualitas antara di perkotaan dengan di daerah dan diharapkan laju pembangunan nasional dapat lebih terarah, terencana, dan tumbuh secara merata. Dasar pendirian status Institut berdasarkan analisis bahwa dari total jumlah 76 Perguruan Tinggi di NTT baru 2 yang berstatus Institut yaitu Institut Keguruan Dan Teknologi Larantuka yang berfokus pada pendidikan dan teknik informatika dan Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan Muhammadiyah Maumere yang berfokus pada prodi pendidikan. Dari data tersebut menunjukkan bahwa belum ada Institut di NTT yang semua prodi tujuan utamanya diarahkan pada Teknologi Rekayasa Pangan, hal tersebut yang menjadi dasar pemikiran akan hadirnya Institut Nasional Flores (INF) di NTT.

Spektrum manfaat pendidikan tidak hanya terbatas pada kemampuannya dalam meningkatkan kualitas kehidupan (ekonomi) suatu wilayah saja, melainkan dapat pula menjadi alat pemersatu dan menjaga stabilitas sosial suatu kawasan. Keberadaan Institut Nasional Flores (INF) di Kabupaten Nagekeo, Provinsi NTT diyakini mampu berkontribusi terhadap percepatan pembangunan bidang ekonomi di wilayah ini selain memberikan sumbangsih terhadap peningkatan kualitas sumberdaya manusianya. Langkah lain yang akan dilakukan dalam rangka merealisasikan pendirian Institut Nasional Flores (INF) di Kabupaten Nagekeo, Provinsi NTT adalah dengan menjalin kerjasama dan membentuk jejaring dengan para stakeholders, pemerintahan daerah setempat, instansi/lembaga, perguruan tinggi eksisting maupun masyarakat. Tujuan dibentuknya jejaring adalah untuk menghasilkan pendidikan berkualitas dengan kecukupan pendukung di dalamnya (SDM & Sarpras) guna menghasilkan output lulusan yang mandiri, mampu bersaing, adaptif terhadap perubahan, dan mampu menemukenali maupun peka dalam memanfaatkan potensi sumberdaya wilayah di Nagekeo-NTT untuk menjawab berbagai permasalahan daerah. Dengan hadirnya Institut Nasional Flores (INF) di Kabupaten Nagekeo, Provinsi NTT diharapkan kualitas sumberdaya manusia di NTT dapat diperbaiki. Beberapa program studi yang akan dibuka Institut Nasional Flores difokuskan untuk turut membantu mempersiapkan kebutuhan saat ini (menjawab permasalahan saat ini) maupun untuk menyiapkan sumberdaya yang dibutuhkan dalam menjawab tantangan masa depan.

Selanjutnya, data lain yang menjadi dasar bagi para pendiri untuk menghadirkan Institut Nasional Flores (INF) adalah akses terhadap pendidikan tinggi di NTT yang masih belum merata karena belum seimbangnya antara jumlah dan distribusi perguruan tinggi yang dimiliki dengan jumlah dan domisili para lulusan sekolah menengah atas (SMA). Perguruan tinggi, terutama yang diselenggarakan oleh pemerintah (PTN) jumlahnya terbatas dan umumnya hanya tersebar pada kota-kota besar atau ibukota provinsi seperti di NTT hanya berada di Kota Kupang (UNDANA) dan Kota Kefa (UNIMOR). Sejalan dengan keinginan untuk turut membantu percepatan pembangunan di Indonesia melalui penyediaan SDM yang berkualitas, para pendiri yang bergabung dalam bingkai hukum Yayasan Flores Mentari berinisiatif untuk memberikan kontribusi nyata melalui partisipasi pendirian perguruan tinggi yang nantinya diharapkan selain meningkatkan tarap pendidikan putra daerah, juga berkontribusi dalam peningkatan penguasaan dan penerapan IPTEKS dalam menunjang pembangunan daerah melaui sentuhan SDM berkualitas. Oleh karena itu para pendiri telah merumuskan model pendidikan yang paling sesuai dan dibutuhkan untuk Provinsi NTT.

Institut Nasional Flores (INF) merupakan perguruan tinggi yang diusulkan oleh badan penyelenggara Yayasan Flores Mentari dengan dukungan sepenuhnya dari Pemerintahan Daerah Kabupaten Nagekeo maupun Provinsi NTT. Tujuan pendirian INF untuk:

  1. Mempersiapkan sumberdaya manusia berpendidikan tinggi yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berbudipekerti luhur, cerdas, kreatif, inovatif, dan produktif, serta mampu mengembangkan dan menerapkan ilmu pengetahuan dan teknologi;
  2. Menyiapkan sumberdaya manusia dengan kompetensi dasar sesuai dengan kebutuhan stakeholders dalam rangka meningkatkan mutu pendidikan;
  3. Menyiapkan sumberdaya manusia yang terampil, berdedikasi, dan memiliki motivasi tinggi untuk mengembangkan Provinsi NTT;
  4. Menghasilkan tenaga profesional dibidangnya masing-masing guna memenuhi ketersediaan SDM berkualitas di Provinsi NTT;
  5. Membantu menyukseskan program otonomi daerah melalui implementasi Tri Dharma Perguruan Tinggi;
  6. Menjadi pusat pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi guna mendorong pengembangan nilai-nilai peradaban manusia, dan
  7. Menjadi pusat pengembangan ilmu, teknologi, dan budaya yang mampu melestarikan, meneliti, membangun, dan memperkuat nilai-nilai yang berlaku di masyarakat dengan membangun pola hubungan yang harmonis.

Konteks sistem penting hadirnya lembaga ini juga atas kepedulian terhadap kerawanan pangan yang dihadapi oleh masyarakat NTT umumnya. Sebagai bagian dari komitmet pendiri dan sesuai dengan standar pengusulan pendirian perguruan tinggi, para pendiri mempersiapkan seluruh dokumen yang terdiri dari tiga aspek yaitu ; 1) Aspek Hukum berupa legalitas Yayasan Flores Mentari berupa Akta Pendirian Yayasan Nomor 70 tanggal 10 November 2017 dengan pengesahan dari Kementerian Hukum dan HAM Nomor AHU-0016787.AH.01.04. Tahun 2017 tanggal 10 November 2017 dan kepemilikan lahan sebesar 19.130 M2 berlokasi di Desa Aeramo yang dihibahkan oleh Bapak Melchior Tibo kepada Yayasan Flores Mentari, 2) Aspek keuangan berupa kepemilikan dana operasional pendirian INF, 3) Aspek umum berupa calon dosen (S2) Institut Nasional Flores (5 orang setiap prodi), calon tenaga kependidikan, sarana prasarana, dan dokumen lainya seperti SPMI, Studi Kelayakan, AIPS setiap prodi, AIPT, Renstra INF. Peran serta pendiri yang tergabung dalam Yayasan Flores Mentari dalam mendukung Visi dan Pemerintahan Provinsi NTT salah satunya adalah menghasilkan Sumber daya manusia yang memiliki kompetensi yang dapat mendukung perkembangan pembangunan ekonomi provinsi NTT. Partisipasi tersebut dibuktikan dengan usulan pendirian Institut Nasional Flores (INF) dengan program studi sebegai berikut :

  1. Teknologi Rekayasa Pangan (D4)
  2. Pengelolaan Pertanian Lahan Kering (D4)
  3. Peternakan (S1)
  4. Teknologi Hasil Peternakan (S1)
  5. Ilmu Perikanan (S1)
  6. Rekayasa Perangkat Lunak (S1)
  7. Agribisnis (S1)

Setiap tahapan telah dilalui mulai dari tahapan permohonan Rekomendasi dari Bupati Nagekeo saat itu Bapak Drs. Elias Djo dengan nomor surat 400/Kesra.NGK/03/01/2018 tanggal 16 Januari 2018, DPRD Kabupaten Nagekeo saat itu Bapak Marselinus Ajo Bupu dengan Nomor surat 171/DPRD-NGK/135/11/2017 tanggal 13 November 2017, dan yang menjadi syarat penting sebagai dasar pengajuan ke Dikti adalah Rekomendasi dari Kepala Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDikti) Wilayah 8. Untuk rekomendasi dari LLDikti sendiri Yayasan Flores Mentari mendapatkan 2 (dua) rekomendasi. Pertama, dengan Nomor surat 1875/K8/KL/2018 tanggal 24 April 2018 perihal Rekomendasi Pendirian PTS Baru dan kedua, dengan nomor surat 1515/L8/KL/2019 tanggal 18 Maret 2019 perihal Pembaharuan Rekomendasi Pendirian PTS. Setelah seluruh dokumen tersedia para pendiri melalui Yayasan Flores Mentari mengajukan pengusulan Pendirian Institut Nasional Flores (INF) ke Bagian Kelembagaan Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (Dikti) di Jakarta melalui sistem online yaitu Sistem Informasi Layanan Perizinan Kelembagaan Perguruan Tinggi (SILEMKERMA). Seluruh dokumen dalam 3 (tiga) aspek yang diminta dan telah disediakan diupload dalam sistem tersebut. Pengusulan pertama  dilakukan pada tanggal 04 Januari 2018 dengan Nomor surat pengusulan 005/YFM/Eks/XI/2017, dikarenakan ada dokumen yang belum lengkap pengusulan tahap pertama ini dilengkapi lagi pada tanggal 13 Agustus 2018 dengan nomor surat pengusulan 005/YFM/Eks/II/2018. Hasil evaluasi usulan periode ini statusnya Belum disetujui, sehingga Yayasan wajib melakukan perbaikan sesuai saran dari reviewer. Setelah melakukan perbaikan pengusulan selanjutnya dilakukan pada tanggal 05 April 2019 dengan nomor surat pengusulan 02/YFM/EKS/IV/2019 dan awalnya 7 (tujuh) program studi saat ini menjadi 5 (lima) program studi. Setelah proses upload periode ini, Dikti melalui Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDikti) Wilayah 8 melakukan visitasi lapangan kepada Yayasan Flores Mentari dalam hal Penilaian Usul Pendirian, Perubahan dan Penutupan PTS serta Pembukaan dan Perubahan Program Studi PTS. Hasil dari visitasi lapangan ini yang termuat dalam berita acara menjelaskan secara umum bahwa Yayasan Flores Mentari dapat melanjutkan pengusulan Pendirian Institus Nasional Flores (INF) dengan sedikit perbaikan. Selanjutnya, pada tanggal 15 Desember 2019 Yayasan Flores Mentari kembali melakukan pengusulan dengan nomor surat 19/YFM/XII/2019 untuk 3 (tiga) program studi yaitu 1) Ilmu Pertanian (S1), 2) Ilmu Perikanan (S1), dan 3) Peternakan (S1). Hasil evaluasi usulan pada periode ini mengalami peningkatan yang mana hanya 1 program studi yaitu Ilmu Pertanian yang statusnya Belum disetujui, sedangkan dua program studi lainnya Ilmu Perikanan dan Peternakan statusnya Direkomendasi. Selanjutnya, Yayasan Flores Mentari fokus pada perbaikan 1 program studi yang belum disetujui tersebut dan pada tanggal 14 Maret 2020 dengan nomor surat pengusulan 20/YFM/III/2020 Yayasan kembali melakukan pengusulan. Hasilnya, pada tanggal 28 Agustus 2020 dengan Nomor Surat : 4176/E3/2020 tentang Evaluasi Lapangan Virtual Usul Pendirian Institut Nasional Flores yang dilakukan pada tanggal 08 September 2020, artinya bahwa pengusulan Yayasan Flores Mentari telah disetujui dan akan dilakukan visitasi secara daring karena keadaan pandemik. Kegiatan visitasi lapangan virtual tersebut berjalan dengan baik karena dari ketiga aspek yang diusulkan oleh para asesor dinyatakan secara standar Telah memenuhi dengan sedikit perbaikan isi dokumen. Selanjutnya, dokumen direvisi oleh Yayasan dan Tim pendirian sesuai permintaan asesor. Akhirnya, menjadi kado Natal tersendiri bagi Yayasan Flores Mentari  yang mana Institut Nasional Flores (INF) hadir di Kabupaten Nagekeo berdasarkan Surat Keputusan (SK) MENDIKBUD Nomor 1074/M/2020 tanggal 08 Desember 2020.

Penyerahan Surat Keputusan (SK) secara resmi dilakukan bersamaan dengan kegiatan LLDIKTI Wilayah VIII yaitu “lldikti Award tahun 2020”. Kegiatan ini di ikuti oleh Perguruan Tinggi di lingkungan Lldikti Wilayah VIII di Bali, NTB, dan NTT yang dilaksanakan di Ruang Aula Bima Kantor Lldikti Wilayah VIII, pada Kamis 17 Desember 2020. Proses penyerahan SK dilakukan langsung oleh Kepala LLDikti Wilayah 8 Bapak Prof Dr I Nengah Dasi Astawa, M.Si kepada Ketua Yayasan Flores Mentari Bapak Benisius Pao, SS., M.Pd disaksikan oleh Pembina Yayasan Flores Mentari Bapak Melchior Tibo, S.Sos, Bapak Kristoforus Meo, SS,  Tim Pendirian INF Bapak Yohanes Freadyanus Kasi, S.Si., M.Pd, Kasubbag Kelembagaan LLDikti Wilayah 8 Bapak Drs. I Gede Githa Dharma Husada, M.Si, dan Kepala Bagian Kelembagaan, Informasi dan Kerjasama LLDikti Wilayah 8 Bapak Drs.I Made Gunawan Swarnaya serta wartawan Media Indonesia Bapak Arnoldus Dhae, S.Fil. Saat proses penyerahan Kepala LLDikti Wilayah 8 berpesan agar segenap jajaran Pengurus Yayasan dan Pembina Yayasan Flores Mentari agar tetap menjaga amanat yang dipercayakan oleh Pemerintah kepada Yayasan agar tetap eksis ke depannya dan berguna bagi bangsa dan negara dan anak NTT pada khususnya.